Jika dia tahu bahwa makanan itu diharamkan dalam Islam, maka semestinya ia tidak menerima orderan tersebut karena termasuk andil langsung dalam kemaksiatan, dan itu terlarang. Seperti dijelaskan dalam Mughnil Muhtaj Juz 2 Hal 337 :
وفي الحديث: مَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كَانَ شَرِيْكًا لَهُ فِيْهَا-الحديث. أُجْرَةُ العَمَلِ الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِالمَعْصِيَةِ حَرَامٌ وَالتَّصَدُّقُ مِنْهَا لاَ يَجُوْزُ وَلاَ يَصِحُّ إهـ
Juga dalam Buhust fi Qadhaya Fiqhiyah Mu’ashirah, halaman 485:
ولكن الإعانة حقيقة هي ما قامت المعصية بعين فعل المعين، ولا يتحقق إلا بنية الإعانة أو التصريح بها، أو تعينها في استعمال هذا الشيء، بحيث لا يحتمل غير المعصية، وما لم تقم المعصية بعينه لم يكن من الإعانة حقيقة، بل من التسبب.
Namun hakikat Ianah ‘ala maksiat adalah suatu tindakan yang menjadi penyebab langsung kemaksiatan tersebut. Hal itu tidak akan terjadi kecuali ada niat membantu kemaksiatan atau tindakan itu menjadi satu-satunya penyebab terjadinya kemaksiatan. Sekiranya tindakan tersebut tidak ada kemungkinan lain kecuali menjadi sebab terjadinya kemaksiatan. Oleh karenanya suatu tindakan yang tidak menjadi penyebab langsung kemaksitan tidak disebut i’anah.”
Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat.