Wali Nikah bagi Perempuan yang Ayahnya Tidak Diketahui Keberadaannya- Penjelasan Fiqih Menurut Imam Nawawi

Deskripsi
Seorang perempuan ingin menikah, namun karena perceraian, bapaknya tidak diketahui keberadaannya.
Pertanyaan
Siapakah yang berhak menjadi wali nikahnya?
Jawaban

Yang berhak menjadi wali pada kasus tersebut adalah Hakim.

إذا كان للمرأة أب أو جد فغاب الاب وحضر الجد ودعت المرأة إلى تزويجها نظرت، فان كان الاب مفقودا بأن انقطع خبره ولا يعلم أنه حى أو ميت فان الولاية لا تنتقل إلى الجد، وانما يزوجها السلطان، لان ولاية الاب باقية عليها، بدليل أنه لو زوجها في مكانه لصح، وانما تعذر بغيبته فناب الحاكم عنه.

Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Juz 27 hal 259

Itu jika bapaknya tidak diketahui keberadaannya. Lalu Bagaimana bila diketahui keberadaannya?

Imam Nawawi menjelaskan :

وان غاب غيبة غير منقطعة بأن يعلم أنه حى نظرت فان كان على مسافة تقصر فيها الصلاة جاز للسلطان تزويجها، لان في استئذانه مشقة فصار كالمفقود. وان كان على مسافة لا تقصر فيها الصلاة، فاختلف أصحابنا فيه، فمنهم من قال يجوز للحاكم تزويجها، وهو المذهب، لان في استئذانه الحاق مشقة، فهو كما لو كان على مسافة القصر

“Apabila si bapak pergi dan tidak terputus kabar keberadaannya juga diketahui ia masih hidup maka dilihat, jika ia berada pada jarak diperbolehkan mengqashar shalat maka pemerintah bisa mengawinkan perempuan itu (tanpa perlu meminta izinnya). Sebab kerepotan meminta izin maka si bapak dianggap seperti tidak ada. Namun bila sang wali berada pada jarak yang tidak diperbolehkan mengqashar shalat maka para sahabat kami berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang menjelaskan bahwa hakim boleh menikahkannya, dan ini pendapat madzhab. Karena kerepotan dalam meminta izinnya. Hal ini berlaku sebagaimana ketika si bapak berada pada jarak diperbolehkannya mengqashar shalat.”

Al Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 27 hal 259.

Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat.